Selasa, 31 Mei 2011

Bukan Hati yang Memicu Rasa Benci Tapi Otak

'Hatinya penuh kebencian', begitu kalimat yang paling sering didengar jika menunjuk orang yang penuh rasa benci. Ternyata bukan hati yang memicu rasa benci tapi otak.

Peneliti mengungkapkan bahwa rasa benci berasal dari beberapa daerah otak yang menjadi aktif. Ilmuwan berhasil menemukan dasar-dasar neurologis dari kebencian.

Ahli saraf Semir Zeki dari University
College London's Laboratory of
Neurobiology melakukan studi yang
melibatkan 17 partisipan orang
dewasa dengan menggunakan alat
functional magnetic resonance
imaging (fMRI).

Dalam studi ini peserta yang terlibat
diperlihatkan gambar-gambar orang dibencinya serta foto orang dikenal tapi tidak dibenci. Kemudian peneliti mengidentifikasi daerah di otak yang terkait dengan perasaan benci itu.

Hasil penelitian menemukan ada
'sirkuit (lingkaran) kebencian' di otak
yang melibatkan beberapa daerah di
otak menjadi lebih aktif seperti
medial frontal gyrus, putamen
kanan, premotor cortex dan medial
insula.

Seperti dikutip dari Scientificamerican, Rabu (23/3/2011), daerah otak ini juga terlibat dalam memulai perilaku agresif, tapi perasaan yang terkait dengan agresif itu sendiri seperti kemarahan, bahaya dan takut menunjukkan pola yang berbeda.

Jika daerah-daerah di otak ini
menjadi aktif maka akan menimbulkan rasa benci seseorang
terhadap sesuatu atau orang lain. Hasil studi ini telah dilaporkan dalam edisi Oktober 2008 PLoSONE.

Salah satu area yang diaktifkan ketika seseorang benci kemungkinan juga berfungsi saat orang menilai orang lain dan memprediksi perilakunya. Sedangkan untuk perasaan cinta tampaknya daerah otak ini dinonaktifkan.

Sedangkan area putamen dan insula
yang diaktifkan ketika membenci
sesuatu ternyata juga diaktifkan saat
terjadinya cinta romantis. Hubungan
ini kemungkinan menjelaskan
mengapa cinta dan benci sangat
terkait erat satu sama lain dalam
hidup.

Hasil studi ini masih menjadi langkah awal, dan diharapkan nantinya akan ada studi lebih lanjut mengenai aspek dan jenis kebencian pada situasi yang berbeda.

Hal ini menjadi penting untuk mengetahui bagian otak mana yang dirugikan akibat adanya kecenderungan emosional yang
berubah.

0 komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Design by kuswandi7 | Ciamis - Jawa barat | Indonesia