Dalam abad ke 21 ini sudah ada ribuan atau puluhan ribu sekolah, di persada ini, mulai dari tingkat rendah sampai ke tingkat yang lebih tinggi, dibangun sebagai tempat untuk untuk mendidik generasi muda agar mereka bisa menjadi bangsa yang bermartabat.
Sekolah itu sendiri coraknya ada tiga, yaitu sekolah formal, informal
dan non formal. Sementara rumah
itu dengan eksistensi ayah dan ibu
juga dapat dianggap sebagai
sekolah pertama bagi anak dalam
memahami kehidupan dan
menguasai life skill (keterampilan
hidup)..
Kemudian bagaimana cara pandang
anak-anak yang belajar di sekolah
tersebut ? Tentu saja juga bervariasi.
Ada anak yang memandang sekolah
sebagai tempat penyiksaan, karena
mereka dipaksa melakukan latihan
demi latihan dengan ancaman dan
tekanan dari bapak dan ibu guru di
sekolah. Ada yang memandang
sekolah sebagai penjara, karena
terpenjara dari pagi hingga sore
sehingga kehilangan waktu untuk
menjelajah di sawah dan di kebun.
Kemudian juga ada yang
memandang sekolah sebagai pabrik
otak. Karena disana ada unsur input/
masukan, proses dan output atau
produk, dan anak anak didik
dipandang sebagai benda dan siap
untuk dilatih dan dilatih melulu
tanpa memahami apa dan
bagaimana hakekat belajar itu
sendiri. Idealnya semua anak musti
memandang sekolah sebagai
tempat yang menyenangkan untuk
transfer ilmu agar berubah menjadi
manusia yang lebih beradab. .
Rasa senang dalam belajar adalah
masalah suasana hati. Ini diperoleh
melalui perlakukan guru dan orang
tua melalui dorongan dan motivasi
mereka. Sebenarnya yang
diperlukan oleh anak-anak dalam
belajar adalah rasa percaya diri.
Maka tugas orang tua dan guru tentu
saja menumbuhkan rasa percaya
diri mereka. Dari pengalaman hidup,
kita sering menemukan begitu
banyak anak yang ragu-ragu atas
apa yang mereka pelajari, sehingga
mereka perlu didorong dan diberi
semangat lewat kata- kata dan
perlakuan
Agar setiap anak bisa belajar dengan
senang dan memperoleh hasil yang
optimal, maka orang tua sebagai
pengasuh di rumah dan guru dari
balik dinding sekolah perlu
memperkenalkan tentang
keterampilan belajar, kemampuan
dalam berkomunikasi dan
memperoleh lingkungan yang
menyenangkan. Ternyata belajar
juga memerlukan keterampilan.
Agar seorang siswa tidak terjebak
dalam kebosanan gaya belajar yang
monoton (belajar cuma sekedar
mencatat perkataan guru dan
menghafal melulu) maka mereka
perlu tahu bagaimana cara
membaca, cara mencatat, cara
mengolah suasana hati yang jitu,
cara mengolah lingkungan dan cara
berkomunikasi dengan guru dan
teman teman selama pembelajaran.
Kemampuan dalam berkomunikasi
juga menentukan apakah suasana
belajar menyenangkan atau tidak.
“ Bukankan hidup kita juga
ditentukan oleh suasana komunikasi
atau seni berbahasa ”. Berbahasa ?
Tentu saja cara berbahasa itu ada 2
macam yaitu: yang menyenangkan
atau cara berbahasa yang
mengecewakan. Guru maupun
orang tua, walaupun katanya selalu
mendorong anak agar jadi pintar
dalam belajar namun kadang kala
cara berbahasa kurang pas menurut
pribadi sang anak. “Aku tidak senang
belajar dengan guru itu…. Atau tidak
suka dengan suasana di rumah ?”.
Tentu saja karena gaya berbahasa
yang kasar, cerewet, banyak
mengomel, suka membentak,
banyak memperolok-olokan sang
anak, meremehkan harga diri dan
ada belasan cara berbahasa negatif
lainnya.
Dua orang yang sedang jatuh cinta
bisa hubungan mereka bisa segera
putus gara-gara berbahasa yang
tidak simpatik menurut pandangan
partnernya. Sebaliknya cinta mereka
bisa langgeng karena “cara
berbahasa yang menarik” selalu
mempertahan cara berbahasa yang
sopan, santun dan lembut. Suasana
berbahasa yang menyenangkan
(bernuansa positif: bahasa yang
penuh pujian, dorongan/ motivasi
dan penghargaan) dan diikuti oleh
lingkungan yang menyenangkan
tentulah akan membuat potensi
belajar anak akan meningkat.
Suasana lingkungan rumah yang
kerap membuat anak tidak nyaman
adalah kondisi rumah yang sempit,
pengap, sembrawut dan ruangan
rumah yang hiruk pikuk oleh suara
elektronik (lagu dan tayangan
televise) yang cedrung membuat
kita sendiri susah berkomunikasi
apalagi berkonsentrasi dalam
belajar.
Secara umum mengapa
pembelajaran anak kecil lebih sukses
dibandingkan pembelajaran yang
dilakukan oleh orang dewasa?
Sehingga ada pribahasa yang
mengatakan bahwa “Belajar diwaktu
kecil ibarat menulis di atas batu
(akan selalu berbekas) dan belajar di
waktu dewasa ibarat melukis di atas
air (apa yang dipelajari akan cepat
jadi sirna) ”. Penyebabnya adalah
selain faktor pertumbuhan otak,
masa anak-anak dan remaja disebut
sebagai the golden age- masa
pertumbuhan otak yang pesat,
adalah juga karena anak kecil
cenderung melalui instink belajar
secara global. Global learning atau
belajar secara menyeluruh, ya ibarat bayi atau anak kecil yang meneliti
lingkungan lewat mulut, tangan, danmata untuk mengeksplorasi apa saja apa yang dapat dijangkau.
Beruntunglah bayi dan anak kecil
yang memiliki orang tua yang peduli
dalam merangsang mereka dalam
global learning- menyediakan
sarana bermain dan belajar, kertas
untuk dicoret atau untuk digunting,
bunyi-bunyian, dan benda-benda
lain untuk digengagam dan
dilempar. Tanpa diikuti oleh
kebiasaan orang tua yang terlalu
banyak menolong, mengeritik dan
serba banyak melarang. Selanjutnya
bahwa untuk membuat suasana
belajar bisa menjadi nyaman, sangat dipengaruhi oleh respond dan
rangsangan (stimulus) lingkungan
serta bagaimana tekhnik belajar/
mencatat dan pengalaman pribadi
anak atau kita sendiri.
Respon dan stimulus lingkungan
Tiap hari anak memperoleh dua
macam komentar dari teman, orang
tua, dan lingkungan yaitu komentar
positif dan komentar negatif.
Komentar yang sering terucap
berhubungan dengan belajar bisa
jadi berupa serangkaian kata-kata
pujian atau cacian. “Kamu memang
hebat, kamu memang pintar, kamu
memang jenius, kamu memang
disiplin atau yang negatif: kamu
sungguh kurang ajar, kamu betul-
betul bodoh, otak mu mungkin
sudah penuh dengan pasir, kamu
memang idiot, dan ada lagi sejuta
kalimat negatif lain yang sangat
ampuh dalam menyayat perasaan
sang anak ”.
Sangat berbahaya bila sang anak
atau sang siswa terlalu banyak
memperoleh komentar negatif.
Sebab semangatnya bisa jadi
melorot. “Percuma saja aku rajin
belajar atau rajin bekerja karena toh
aku tidak akan pernah dihargai
sebagai manusia ”. Kalau begitu
mengapa kita terbiasa gencar
membombardir anak-anak atau
orang- orang yang posisinya berada
di bawah kekuasan kita dengan
stimulus negatif. Mungkin gara-gara
merasa sok berkuasa atau sok punya power yang membuat orang merasa mudah melemparkan kritikan dan komentar negatif.
Ada anak yang secara sekilas
dipandang sangat beruntung karena
tinggal dengan orang tua yang
berpenampilan sangat gagah dan
fasilitas hidup cukup mewah- punya
mobil, disuruh ikut les ini dan les itu.
Namun sang anak malah bermimpi
bahwa alangkah indahnya kalau bisa
pindah rumah. Ada apa gerangan?
Ternyata Ia (anak) sering kena
ancam atau tidak ada contoh,,
“ Kamu sudah aku masukan les privat
sains dan les privat matematik, kalau
masih rendah nilai mu, kau pindah
saja sekolah ke kampung ”. Itulah
karena kebiasaan mengancam dan
kritikan negatif, maka kecerdasan
anak pada akhirnya akan mandek
pada usia sekolah.
Sebaliknya, sekali lagi, beruntunglah anak yang memperoleh rangsangan dan respon positif. Anak anak yang
memperoleh kaya rangsangan akan
bisa menjadi pelajar yang sukses.
Dengan kata lain bahwa lingkungan
yang miskin rangsangan dan dan
dibombardir dengan respon negatif
berpotensi menciptakan anak
menjadi pelajar yang lamban.
Mengapa guru dan orang tua kok
senang dengan misbehave atau
salah bersikap? Jika anak merasa
kurang percaya diri, maka bantulah
dia. Coba menemukan hal hal positif
pada dirinya dan pujilah dia agar
rasa percaya dirinya bisa datang.
Komentar-komentar positif dapat
membangkitkan percaya diri
mereka.
Orang belajar memang tergantung
pada faktor fisik (suasana
lingkungan), faktor emosional
(suasana hati) dan faktor sosiologi
atau lingkungan teman, guru, orang
tua dan budaya sekitar. Maka berilah
suasana pencerahan pada
lingkungan, suasana hati dan
suasana sosiologi anak.
Tekhnik menctat dan pengalaman
pribadi
Cara belajar dan pengalaman pribadi
juga menentuka apakah belajar itu
nyaman dan menyenangkan atau
tidak. Karakter orang belajar
memang sangat bervariasi. Ada
yang senang belajar dengan cahaya
terang atau agak redup, ada yang
belajar dengan berkelompok atau
sendiri, ada yang senang belajar
pakai musik atau suasana sepi, dan
ada yang senang belajar dengan
suasana berantakan atau rapi. Maka
guru, juga para orang tua, perlu
memahami variasi mereka dalam
belajar dan jangan pernah terlalu
mencampuri variasi belajar mereka kalau akibatnya membuat anak kurang nyaman dan kurang senang
dalam belajar.
Bobbi De Porter dan Hernacki (2002)
mengatakan bahwa variasi belajar
atau modalitas (cara menyerap
informasi) juga bervariasi pada
setiap orang. Ada orang atau anak
yang mengandalkan kekuatan visual
yaitu membaca, karakter orangnya
adalah cara berbicara cepat. Ada
yang bersifat auditorial atau
mendengar, karakter orangnya
adalah suka bicara sendiri dan
kecepatan berbicara sedang,
Kemudian ada orang berkarakter
kinestetik atau banyak gerakan.
Orangnya susah untuk tenang atau
duduk diam dan berbicaranya
lambat.
Perlu diingat bahwa dalam belajar,
supaya anak juga perlu aktif dalam
mencatat. Mencatat dalam belajar
bermanfaat untuk meningkatkan
daya fakir mereka. Ada dua macam
cara mencatat: mencatat dengan
membuat peta konsep (menulis
poin-poin penting dan membuat
hubunganya) dan mencatat tulis
susun, atau menulis poin poin
penting secara bersusun saja. Kiat
tambahan dalam mencatat adalah
mencatat untuk mendengar secara
aktif, misal dalam seminar, pidato,
ceramah.. Usahakan duduk paling
depan.
Percaya atau tidak bahwa kita
semua adalah penulis. Dorongan
untuk menulis itu sama besar
dengan dorongan untuk berbicara
yaitu untuk mengkomunikasikan
fikiran dan pengalaman kita.
Selanjutnya milikilah dan perkayalah
pengalaman hidup. Milikilah
pengalaman pribadi yang banyak
dan beragam dengan cara banyak
bergaul dan melakukan perjalanan .
Sebab orang yang mempunyai
koleksi pengalaman pribadi yang
banyak akan lebih kreatif dalam belajar dari pada orang yang kurangpengalamannya.
Selain membiasakan mencatat
selama belajar maka anak juga perlu
mempunyai minat membaca dan
mengetahui cara-cara membaca
yang tepat. Perlu untuk diketahui
tentang kecepatan membaca. Ada
kecepatan membaca yang regular
atau kecepatan biasa-biasa saja.
Skimming atau membaca dengan
melihat cepat, misal membaca buku
telepon dan mencari kata dalam
kamus. Scanning yaitu membaca
sekilas, misalnya membaca headline
pada Koran atau melihat daftar.
Agar kita, anak, siswa dan siapa saja
bisa merasakan suasana belajar
yang menyenangkan maka musti
membiasakan untuk berfikir kreatif.
Hidup ini indah atau susah memang
ditentukan oleh suasana hati dan
fikiran. Berfikir kreatif, bukanlah
masalah kerja lebih keras, tetapi
berfikir dengan banyak alternatif.
Orang yang kreatif senang selalu
mencoba, melakukan petualangan
dan bermain-main dengan
tantangan. Salah satu latihan kreatif
adalah bercerita tentang kejadian
sehari-hari. “Ibu guru, bapak guru
dan ayah-ibu di rumah perlu untuk
menyisihkan sedikit waktu agar bisasharing dan berbagi cerita tentang
indah dan mudahnya hidupm ini
dengan anak ”. Last but not least
(akhir kata) bahwa siswa/ anak perlu untuk mengulang materi pelajaranakan meningkatkan daya ingat dan pemahaman, sehingga belajar ituakhirnya memang bias jadi asyik,nyaman dan menyenangkan. .
(Catatan :Bobbi De Porter dan Mike
Hernacki. 2002.)
Jumat, 03 Juni 2011
Saatnya Belajar Dengan Cara YangMenyenangkan
Labels
- Aku ingin tau? (1)
- Health (6)
- Tips dan Trik Belajar (2)
- Tips Mencari Cinta (8)
Labels
- Aku ingin tau? (1)
- Health (6)
- Tips dan Trik Belajar (2)
- Tips Mencari Cinta (8)
Postingan Populer
-
eski banyak yang mengatakan cinta itu tumbuh di hati, proses sesungguhnya lebih banyak terjadi di otak. Lebih mencengangkan lagi, cinta pada...
-
Kebanyakan pria tak cukup pandai dalam hal bercumbu-rayu. Sebenarnya hal ini bukan melulu tergantung pada ‘bakat alami’, menggoda lawan ...
-
Tidak sedikit wanita yang ingin mendapatkan pasangan hidup yang romantis. Keromantisan seseorang ternyata tidak hanya tumbuh jika telah me...
-
'Hatinya penuh kebencian', begitu kalimat yang paling sering didengar jika menunjuk orang yang penuh rasa benci. Ternyata bukan hati...
-
Berikut ini tips memutus hubungan cinta secara baik-baik, seperti dilansir Femalefirst, di antaranya: Jujur Anda bisa jujur mengungkapk...
-
Tips Belajar Efektif Ada baiknya Anda membuat persiapan yang baik buat satu semester ke depan. Tak ubahnya para peserta diri yang ditun...
-
Dalam abad ke 21 ini sudah ada ribuan atau puluhan ribu sekolah, di persada ini, mulai dari tingkat rendah sampai ke tingkat yang lebih ting...
-
Hubungan seks melalui dubur.atau seks anal tidak hanya populer di kalangan.kaum gay, tetapi juga pada pasangan heteroseks. Penelitian terbar...




22.49
bLoG'Nya OraNg KaMpUng
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar